“Gusti, Engkau ada di setiap saat, setiap tempat dan di setiap kejadian. Engkau bahkan lebih dekat padaku dari pada urat leherku sendiri. Maafkan aku yang kerapkali lalai dan mengacuhkan keberadaanMu. Maafkan aku yang bahkan tak segera menyambut adaMu dengan syukur dan istighfar. Lemahnya diri ini yang membuat lalai dan lambat menjadi sahabatku. Tanpa pertolonganMu, niscaya aku akan menjadi hambaMu yang merugi selamanya.”
“Engkau mengirimkan pertanyaan-pertanyaan kepadaku, Gusti, tentunya agar aku menjadi lebih mengerti. Karena ketika Engkau ciptakan perasaan malu dan sombong dalam hatiku, Engkau ingin mendorongku untuk dapat belajar menjawab semua pertanyaan yang datang kepadaku. Sebagaimana Engkau buat aku lemah, maka dengan malu dan sombong, hina dan cerca, puji dan sanjung yang kau kirim juga untukku, sesungguhnya Engkau ingin aku menjadi hambaMu yang kuat. Kekuatan yang Kau kehendaki ada padaku, tentunya hanya untuk menguatkan diri ini agar dapat selalu bersaksi atas kebesaran dan ketak-terhinggaanMu.”
“Namun, Gusti, jika aku telah lebih kuat dari sebelumnya, telah lebih mengerti dari sebelumnya, telah lebih baik dari sebelumnya, yang tentu saja dapat terjadi atas kehendakMu jua, padamkanlah malu dan sombong dari dalam hatiku. Isikanlah ikhlas dan rendah hati (tawadhu’) sebagai gantinya. Ikhlas karenaMu, karena hanya dari ijin Engkau segala sesuatu dapat terjadi. Tawadhu’ karena hanya Engkau pemilik kekuatan yang sesungguhnya, yang aku tak punya kuasa apapun atas semua kekuatan yang ada, bahkan yang ada dalam diriku sendiri. Sungguh, laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim, laa ‘ilmalana illa ma ‘alamtana.”
Ujung cakrawala menyemburat merah. Tak rata. Ada sesuatu yang sengaja dilemparkan untuk melukisnya…

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini