Sang Pecinta Agung menundukkan muka, dengan tanganNya sendiri menorehkan jelaga kental di hati para pencintaNya.

Namun, pantulan cahaya Ilahi dari hati mereka malah menjadikan jelaga itu sebagai kristal-kristal bening yang semakin berkilauan, bening, lalu rontok, turun dan diperebutkan oleh banyak makhluk yang mendambakan cinta Tuhan mereka.

Tiada lain yang dilakukan Sang Maha Pecinta, kecuali membuka tanganNya dan menerima kedatangan seluruh makhlukNya dengan cinta yang setulus-tulusnya.

Aku rindu padamu dinda. Kerinduan yang terlalu bagus untuk diucapkan dengan short messages service ataupun telepon yang akan mengganggu ketenangan tidurmu.

Aku rindu kehadiranmu, dinda. Kerinduan yang sering kuartikan sebagai ketiadaanmu. Dia boleh anggap kita tiada. Dia boleh anggap kita tak pernah nyata. Tapi, engkau nyata bagiku. Engkau adalah hal yang terindah dalam hidupku. Karena kesediaanmu menjadi bagian dari hidupku.

Aku rindu padamu, dinda. Rindu pada kepandaianmu yang bahkan jauh di atasku. Rindu akan petunjuk yang kau ukir secara tegas dalam goresan-goresan kata-katamu, membekas jauh di ujung selembar hatiku. Merindukan kehadiranmu sebagai telaga untuk pengembara yang bahkan tak tahu ke mana harus melangkah.

Aku akan selalu merindukanmu, dinda. Tidak di sini ataupun di sana. Tidak sekarang, tidak pula nanti. Setiap saat. Setiap waktu yang berjalan jauh menyusuri masa lalunya.

Aku selalu merindukanmu, dinda. Engkaulah masa depanku. Engkau pula masa laluku. Dan engkau juga masa kiniku.

Aku rindu padamu, dinda…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.